Gak cuma sekali ini aja, tapi dah beberapa kali. Kenapa sih ya kok kita sering banget menafsirkan isi Alkitab dengan keliru…? Aku percaya dengan kekuatan Firman Allah yang hidup yang mampu untuk menembus sampai kedalaman hati manusia dan berbicara dengan berbagai cara. Nah, masalahnya kadang kitanya yang suka salah mengartikannya.

Aku bayangin, kadang kita juga sering salah kaprah kalo bicara dengan orang lain. Maksudnya orang itu apa eh, kita nangkepnya berbeda. Atau kitanya yang kreatif. Maksudnya ‘A’ tapi kita buatnya jadi ‘A+1′ atau ‘A-1′… Nah, kekeliruan itu bisa memunculkan dampak yang gak enak. Nanti salah pahamlah, merasa tersinggung lah…atau kalo itu berupa perintah malah nanti bisa bener2 fatal akibatnya.

Nah, gimana dengan Firman Tuhan sendiri? Jelas Allah pingin kita ngerti tiap tulisan yang Dia ilhamkan itu dan kita semua tau kalo tiap tulisan itu memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Tetapi kalo sampe kita salah mengartikannya, bagaimana dong? Apalagi kalo itu jadi bahan renungan buat orang banyak. Waduh…jangan-jangan kita sudah ‘menyesatkan’ mereka! Apa kadang juga karena dikejar setoran tulisan yah, sehingga apa yang ada aja yang dimasukkan? Aku harap bukan itu alasannya..

Aku pribadi punya beberapa cara untuk tidak ikut ‘tersesat’ seperti itu. Pertama, kalo aku bersaat teduh, artikel yang biasanya ada dalam tulisan hari itu tidak menjadi prioritas untuk aku baca. Kenapa begitu? Karena biasanya yang membingungkan itu adalah bagian artikel yang bikinan penulisnya. Padahal yang penting kan adalah bagian Alkitab yang harus dibaca hari itunya. Cuma kebanyakan orang menyangka dengan membaca artikel berarti sudah dapat menangkap maksud dari bagian Alkitabnya. Makanya ayat Alkitab cukup dilirik aja dan selanjutnya meluncur ke isi artikel (ditambah kalo waktunya dah muepetttt banget). Waktu duluuuuuu aku juga sempat mempraktekkannya, apalagi biasanya artikelnya tuh menarik karena berisi cerita2 yang inspirasional. Tapi aku sadar bukan itu yang seharusnya aku ingat dan renungkan melainkan Firman Tuhannya. Lagipula, artikel itukan hasil olahan dari orang lain terhadap ayat atau perikip yang udah dia baca. Aku mau menikmati olahanku sendiri. Masak sih aku makan hasil kunyahan orang lain? Euw…..!

Kedua, aku suka menggali dan merenungkan isi Alkitab itu secara pribadi. Aku suka menyelidiki apa latar belakang dari tulisan itu, konteksnya, alasannya dan fakta2 lain yang ada (tersirat atau tersurat) dalam tulisan itu. Bahan penolong bisa pake buku penuntun yang dah banyak tersedia di toko2 buku. Kalo aku sih memanfaatkan jasa perpus dong… Dari buku2 otu aku semakin bisa belajar apa makna dari sebuah ayat atau perikop.

Memang benar…..bahwa tiap kali kita membaca sebuah ayat pasti kita akan mendapatkan satu hal baru. Mau sampe ribuan kali kita dapet satu ayat, pasti ada bagian lain dari ayat itu yang terasa baru bagi kita (banyak orang yang awalnya cuma ngomong doang tentang hal ini juga sudah mengalaminya sendiri). Itu bisa didapet dari waktu kita denger kotbah, baca buku atau dari sumber lain. Bersyukur untuk tiap sarana mendapatkan Firman Tuhan itu. Tapi aku yakin bahwa Allah juga ingin dikenal secara pribadi melalui pembacaan kita secara pribadi juga atas Firman-Nya. Bayangkan indahnya saat2 membaca Alkitab dengan pemahaman yang benar atas isi yang ada di dalamnya. Jelas sebelumnya kita mohon pimpinan Roh Kudus untuk menerangi pikiran kita sehingga mengerti apa yang Allah maksud. Kalo hal ini dilakukan dengan tergesa2 dijamin susah. Yang udah mantengin Alkitab berhari2 aja kadang tetep gak ngerti arti dari sebuah perumpamaan, misalnya. Untuk itulah kita perlu kesengajaan untuk dapat mempelajari isi dari Alkitab. Waktu, alat2 penuntun dan bisa jadi rekan, mutlak diperlukan untuk mewujudkan hal ini.

Cuma sekarang, kitanya sering kehabisan waktu untuk duduk diam dalam membaca Alkitab. Aku juga mengalaminya kok. Itu memang harus diperjuangkan. Makanya perlu dorongan dan dukungan dari temen2 yang juga punya keinginan yang sama untuk mempelajari Alkitab. Supaya nantinya kita gak salah2 kalo mengartikan..Aku pikir ini bisa dilakukan oleh siapa aja yang emang rindu untuk dapat mengerti dengan benar isi Alkitab itu. Gak mesti mereka yang lulusan theologia aja tapi semua orang yang mau pasti bisa melakukannya.

Phew, kadang suka gemes aja kalo baca artikel yang (kadang) rasanya kurang nyambung dengan bagian Alkitabnya. Itu membuatku semakin menghargai kekayaan hikmat Allah yang telah mengilhami penulis2 kitab dahulu. Walo berbeda waktu dan tempat tapi semua cerita dalam Alkitab, dari Kejadian ampe Wahyu, membentuk satu jalinan kisah yang besar dan luar biasa. Rasa gemes itu juga yang mendorongku untuk mau sengaja memakai waktu membaca dan mempelajari isi Alkitab. Selain bisa menjadi berkat buatku bisa juga menjadi berkat buat orang lain.

Seperti kata pembatas Alkitab yang terselip dalam Alkitabku:

Banyak buku sudah selesai kamu baca.

Buku yang Ku tulis sudah belum?

-Tuhan

Belajar Alkitab Yuuukkkk...

Belajar Alkitab Yuuukkkk...